Cuaca begitu terik, Solo terasa lebih panas daripada biasa nya. Angin kemarau meluluhlantagkan imaji imaji kotor, bayangan tentang masa muda ku yang perlente, yang mentereng dan hits. Aku dan Sardi seperti biasa dengan muka lenggang dan biasa saja memangku siku kananku yang terlalu kuyu untuk seorang bapak sepertiku, menopang dagu membuatku sepersekian detik lupa sekejap, bahwa dunia terasa lebih indah selama sepersekian detik ku. Ah, namun hanya lamunan gombal, basa basi sampah, merambat melalui gorong-gorong dan got yang seakan menjadi ironi tak tersampaikan di balik kemewahan parfum parfum dan bau roti mahal di sesak nya stasiun. Di muka stasiun Tirtonadi, memang benar menjadi nadi yang harus selalu berdenyut, agar anak anakku tak terlihat kering, selalu basah.
Pages
"Kantong ketawa anda memang suatu anugrah paling indah yang tuhan pernah kasih, hendaknya digunakan sebaik baiknya, dan jangan berlebihan sebelum sindrom tuna ketawa menggerogoti hidup anda"
Senin, 03 Agustus 2015
Minggu, 05 April 2015
Perempuan tua dan lelaki tak lagi muda pemilik kedai kopi yang dulu lama sekali tenar namun sekarang tidak.
Hujan mengguyur kota malam itu. Belum terlalu larut, namun hilir mudik muda mudi tak se ramai biasanya. Hujan mulai berhenti seiring dengan aroma sendu kopi malam panas, asapnya seketika mengepul memenuhi ruang yang di bentengi dinding bambu. Anyamannya telah di selubungi jalinan debu yang berasal dari tua nya kedai legendaris itu, mengental di sela-sela nya. Sorot lampu sedikit menerangi ruangan, seketika terlihat guratan pola abstrak berwarna coklat kusam di ujung lipatan atap.
Selasa, 24 Maret 2015
Dia teknikal death metal sedangkan aku hanya blues yang penuh delay.
Belum lama ini aku menemui kerabat dekat waktu kuliah dulu. Pertemuan
yang lebih banyak terhabiskan oleh obrolan mengenai prinsip hidup.
Lingkungan begitu mempengaruhi pola pikir seseorang ternyata. Kami
sepakat bahwa saat ini mahasiswa masih banyak yang berpikir "satu tambah
satu sama dengan dua, harus dua" artinya lurus-lurus aja. Daya kritis
dan kreatifitasnya teralihkan pada anggapan tentang nilai yang salah.
Teknokrat. Terkadang memang harus bilang teknokrat, bukan sok akademis
atau menginginkan pengakuan kelas sosial, dan hal hal remeh temeh klise
lain. Namun jika dikatakan "berorientasi pada hasil" saja juga kurang
menurutku, jadi ada beberapa istilah yang memang harus diistilahkan
dengan bahasa asing atau serapan.
Jumat, 06 Maret 2015
Alien want say something
Menikam diriku sendiri dengan sebuah tambang serabut kelapa, kalau perlu itu ku lakukan untuk membuktikan, bahwa aku bukanlah Alien. Aku berasal dari moyang yang sama dengan mu, dengan sanak saudara mu semua. Gigiku utuh seperti manusia, karena tidak skoliosis dan memiliki kelainan tulang belakang, aku berjalan tegak seperti manusia normal pada umumnya, hanya saja aku memang sedikit bungkuk, karena aku memang pemalas dan suka tidur. Dalam mengitari bumi ini, aku tak menggunakan -yang disebut manusia pada dimensimu (agar kau tak marah jika ku samakan aku patut ada dalam satu dimensi denganmu) sebagai- Unidentify Flying Object, aku mengendarai motor matic -baru- untuk pergi ke mana suka. Ketika lelah aku juga meneteskan peluh yang rasa nya asam seperti punya mu, seperti punya manusia umum pada dimensimu, lantas kenapa kau masih saja memfitnah aku sebagai Alien?
Aku menggunakan smart phone, aku pernah juga jatuh cinta -walaupun jarang- , aku pernah juga sesekali marah dan bertingkah konyol selayaknya manusia pada dimensi dimana kamu memaki-maki setiap aral lintangan yang tak kuat kau pikul sendiri. Aku memiliki motivasi hidup, sehingga aku memutuskan untuk bekerja, sebagai pustakawan, aku hidup di dunia mu, tapi aku takut kamu marah jika tau kalau aku bilang aku hidup di duniamu. Terkadang aku absurd juga seperti pekerti wajar manusia pada dimensimu, aku mengalami sebuah realitas yang terkadang kulihat terbalik sehingga aku punya yang namanya selera humor, aku punya -hampir- segala adab normatif miliki manusia normal seperti dalam dimensimu.
Bukankah manusia baik sepertimu harusnya adil dalam berpikir? Kau saleh secara sosial dan teologis, aku tau. Tapi masih saja kau anggap aku Alien.
Aku menggunakan smart phone, aku pernah juga jatuh cinta -walaupun jarang- , aku pernah juga sesekali marah dan bertingkah konyol selayaknya manusia pada dimensi dimana kamu memaki-maki setiap aral lintangan yang tak kuat kau pikul sendiri. Aku memiliki motivasi hidup, sehingga aku memutuskan untuk bekerja, sebagai pustakawan, aku hidup di dunia mu, tapi aku takut kamu marah jika tau kalau aku bilang aku hidup di duniamu. Terkadang aku absurd juga seperti pekerti wajar manusia pada dimensimu, aku mengalami sebuah realitas yang terkadang kulihat terbalik sehingga aku punya yang namanya selera humor, aku punya -hampir- segala adab normatif miliki manusia normal seperti dalam dimensimu.
Bukankah manusia baik sepertimu harusnya adil dalam berpikir? Kau saleh secara sosial dan teologis, aku tau. Tapi masih saja kau anggap aku Alien.
Langganan:
Postingan (Atom)