Pages

"Kantong ketawa anda memang suatu anugrah paling indah yang tuhan pernah kasih, hendaknya digunakan sebaik baiknya, dan jangan berlebihan sebelum sindrom tuna ketawa menggerogoti hidup anda"

Rabu, 24 Desember 2014

Aku indie celamanyah!

Aku tidak tau, akan kuarahkan kemana tulisanku ini. Aku hanya datang ke suatu pameran bertajuk "indie clothing expo", mengamati sekitar, dan membuat catatan-catatan kecil. Tidak lebih, hanya saja mungkin ini akan menjadi tulisan ter-absurd-ku.

Indie yang ku tahu, identik dengan Independen. Sesuatu yang Independen pada umumnya memiliki cirikhas, memiliki idealisme kuat juga konsistensi memegang idealisme, dan anti mainstream. Munculnya indie adalah bentuk ketidakpuasan terhadap "produk" mainstream yang mendominasi pasar.
Acara - yang kebetulan aku diajak teman untuk datang- ini menyajikan beragam citarasa indie yang bergizi. Semua indie; kaos dan mercendais keperluan gaya hidup modern, band, hobie dan komunitas
Aku menganggap ini baik, karena produk lokal masuk ke dalam gaya hidup manusia lokal. Menggeser produk mainstream. Namun menjadi mainstream di kalangan underground. Public mainstream dan public underground semua tersegmentasi dengan garis demarkasi abu-abu.

Senin, 01 September 2014

akubuku: 40 Komik Strip PKI Pemilu 1955

akubuku: 40 Komik Strip PKI Pemilu 1955: :: gusmuh PKI tahu persis bagaimana memakai seni populer untuk mempengaruhi pemilih dan sekaligus mengajarkan warga desa yang masih banya...

Jangan ada klise diantara kita



Dendeng ikan bawal itu menjadi santapan terakhirnya hari ini. Ruminah dengan tergesa-gesa merapikan sisa alat dapur yang masih tergolek di ruang tengah. Rumah kayu tepi danau itu satu-satunya peninggalan moyangnya, termasuk dirinya. Kecipak air adalah teman yang sangat setia, lebih setia dari dirinya bahkan. Sesimpul senyum dua anak manusia, dalam frame kotak sederhana itu kekasih abadinya. Projo dan Ruminah, pernah menggemparkan dunia. Projo dan Ruminah dikala muda sebenarnya pasangan yg biasa2 saja, tapi berkesan. Projo dan Ruminah dalam frame kayu yang telah lapuk karena terlalu sering terkena tetesan hujan itu terlihat begitu bersemangat, keduanya terlihat polos, di tengah taman kota itu mereka saling melempar senyum kagum, senyum yang mereka pikir tak kan pernah hilang seumur hidup. Senyum yang selalu tersimpul ketika merasa digoda, senyum yang tiba-tiba senyap ketika kecewa, senyum yang ambigu, yang sejuta makna, yang memancarkan semburat jingga seperti senja.

Senin, 11 Agustus 2014

Sore di Kampung Nelayan



Tali tambang yang terdiri dari lipatan berbuku-buku itu dilempar ke daratan, menghasilkan suara seperti batang pisang yang jatuh di tanah lembab. "Gedebuk", benar-benar seperti itu. Suara-suara mereka begitu parau, melompatkan seruan-seruan kotornya, sambil menghembuskan nafas tembakau. Mulutnya memang tak pernah bisa lepas dari tembakau, asapnya bercampur dengan udara amis dan kasar, atmosfer kasar begitu kental memang. Tak bisa lah, berseru tak kencang, memang sudah tradisi. Berseru kencang dan kotor menyatu dengan persaudaraan yang kental nan syahdu.

Kembala-kembala begitu kering kerontang, sapi-sapi sulit mengganyang rumput, tak doyan ikan. Bisa-bisa mati karena kebanyakan mengganyang sampah. Sampah-sampah yang memampatkan aliran sungai, membentuk koloni sepanjang aliran sungai, menjadikan bakteri Escherichia coli tumbuh subur menggerogoti jajahannya. Ditambah lalat-lalat hijau yang beterbangan seperti pawai kampanya pilpres kemaren yang girang dan gila.


Selasa, 22 Juli 2014

Mimpi Seorang Maling



Temaram lampu berwarna biru senyap itu menderu menggrayangi mata Susito. Dalam ruangan berukuran 2x3 meter itu terdapat sebonggol kepala yang dibungkus rambut tipis lumayan panjang. Giginya kuning tua bergaris-garis seperti warna seng yang berkarat. Kepulan asap rokok yang tak dimatikan dengan sempurna itu seperti dengusan asap naga yang baru saja selesai memantikkan api. Mungkin ia tergesa-gesa waktu mematikannya ke dalam asbak batok kelapa coklat itu, berserabut, serabut yang bergelombang. Sesosok lelaki buta warna itu memiliki nyawa, dan jiwa yang panas, tapi terkadang merintih kesakitan terhimpit jaman yang semakin dingin, sinis, dan angkuh. 

Selasa, 08 Juli 2014

Anak pembuat salib



Aku menggamit dua buah setangan basah, baru tadi pagi aku menjatuhkan kopi rebus panas, hingga membasahi seluruh permukaan setangan kain, yang serabutnya berjumbai-jumbai seperti bawahan penari hula-hula, yang binal itu. Seketika aroma bacin menyeruak, rupanya setangan itu adalah bekas mengelap telur busuk yang pecah karena lupa diletakkan di dalam kotak penyimpanan lauk terlalu lama. Baunya sungguh menusuk, langsung meluncur ke ubun-ubun, jika ingin berlebihan lagi, tembus ke langit melalui jelaga yang pengap dan penuh aura jahat.
Aku menuruni loteng rahasia yang tersusun dari kubik-kubik balok sisa gergajian tak simetris itu. Permukaan yang licin membuatku blingsatan karena harus tetap seraya menjaga konsentrasi selagi nyawa belum lagi terkumpul. Bau kayu tua nya serasa muffin hangat bertabur coklat berlendir. Lezat. 

Jumat, 04 Juli 2014

Seonggok mayat yang tersenyum



Perempuan tua itu kembali lagi dengan cerita sedih keluarganya, "suamiku selingkuh, aku kurang kuat bagaimana coba?". Tukang rokok, tukang sate, tukang cukur rambut yang bagaimana orang bisa percaya dengan penampilan kumel nya, semua. Sampai ke lorong-lorong tersempit, batu pualam, air bekas soto yang seharian dijajakkan oleh penjual yang tidak kalah kumel dengan tukang cukur, kotoran kuda yang kering, gundukan aspal yang dahulu di gali dan ditancapkan entah apa namanya kemudian di tutup tidak sempurna menyerupai gunung kecil. Semua, bahkan penjual gudek ceker, bule yang terbirit mengejar alur jalan menuju penginapan yang entah aku tak tahu dimana. Ya, semua. Semua yang tampak bahkan oleh mata manapun. Yang terlihat maupun tidak.

Senin, 02 Juni 2014

Bencana Saleh





Hari itu, aku lupa tepatnya jamberapa, yang jelas aku datang pertama kali. Aku berangkat dengan semangat, melewati perpindahan udara yang memacu jantung bergerak tak stabil. Kaliurang tak se dingin biasanya, kabut tebal yang menyerupai hempasan sutra berjumbai yg dijemur di pinggir pantai. Sembribit kata orang.

Selasa, 11 Februari 2014

Don Jon: Realita yang susah diterima dengan akal seorang lelaki dewasa: Sebuah awal

Sumber

Terkadang, ketika kita memutuskan untuk memilih film comedy | drama | romance, pikiran "buas" kita tanpa atau dengan sengaja terangsang. Sudah pasti banyak adegan-adegan yang liar, dunia malam, wanita-wanita seksi, aurat yang secara bebas dipublikasikan, obat-obatan terlarang maupun kata-kata kotor yang terucap begitu saja yang seakan tanpa pertimbangan apapun. Tidak jauh berbeda dengan comedy | drama | romance lain,