Pages

"Kantong ketawa anda memang suatu anugrah paling indah yang tuhan pernah kasih, hendaknya digunakan sebaik baiknya, dan jangan berlebihan sebelum sindrom tuna ketawa menggerogoti hidup anda"

Minggu, 18 Oktober 2015

Cerita tentang bayangan.

Jauh nan di seberang lautan penuh desir ombak tak henti henti sana, hidup sebuah bayangan yang tak juga mau beranjak dalam sebuah goa karang keterasingan. Bayangan yang kilat nya tak cukup sekali panjang mata memandang dan sapuan kilatannya tak cukup kuat dilihat oleh mata telanjang. Bayang dalam gelap. Gelap yang memakan bayang. Gelap sendiri pun adalah bayangan yang telah lelah untuk mengkilat, sehingga mengendap dalam ruang dan bisu oleh karang yang mana riak terus menghantam dinding dinding keras nya.
Deru mengaum seperti singa di padang pasir, bebas teriak seperti samudra. Menelangkupkan segala bentuk gelombang yang pecah dengan sendirinya oleh sapuan angin yang mengamuk padahal sebenarnya tak mau.
Bayang tak juga mau mengaum, padahal hanya cukup sekali kilat semua tersapu, seluruh samudra hilang hingga menjadi gurun. Siapa terkena dan masih dalam bayangan akan terasuk pula kekuatan maha dahsyat yang seperti perubahan samudra menjadi gurun. Hati yang dengan bayangan tak mampu enyah kepada mengikuti waktu, hati yang keras bagai karang tak pelak menghasilkan bumerang yang sangat hitam hingga terlihat sangat putih.

Yogyakarta, 18 oktober 2015. Lagi embuh

Jumat, 11 September 2015

Entah, mana lagi yang dituju..

Suatu ketika saat musim panas tak kunjung usai, kekeringan dimana-mana, penderitaan, penggusuran, ketidak adilan menimpa setiap yang bernafas dan tak cukup punya uang untuk bisa bernafas tenang. Ego tak bisa memaksa untuk menulis kata-kata puitis, namun keadaan saat ini begitu puitik sampai-sampai dringking jar berbentuk lodong tanpa tutup yang ku beli minggu lalu tak juga ku airi dengan se tetes minuman pun. 

Senin, 03 Agustus 2015

Pure Saturday

Cuaca begitu terik, Solo terasa lebih panas daripada biasa nya. Angin kemarau meluluhlantagkan imaji imaji kotor, bayangan tentang masa muda ku yang perlente, yang mentereng dan hits. Aku dan Sardi seperti biasa dengan muka lenggang dan biasa saja memangku siku kananku yang terlalu kuyu untuk seorang bapak sepertiku, menopang dagu membuatku sepersekian detik lupa sekejap, bahwa dunia terasa lebih indah selama sepersekian detik ku. Ah, namun hanya lamunan gombal, basa basi sampah, merambat melalui gorong-gorong dan got yang seakan menjadi ironi tak tersampaikan di balik kemewahan parfum parfum dan bau roti mahal di sesak nya stasiun. Di muka stasiun Tirtonadi, memang benar menjadi nadi yang harus selalu berdenyut, agar anak anakku tak terlihat kering, selalu basah.

Minggu, 05 April 2015

Perempuan tua dan lelaki tak lagi muda pemilik kedai kopi yang dulu lama sekali tenar namun sekarang tidak.


Hujan mengguyur kota malam itu. Belum terlalu larut, namun hilir mudik muda mudi tak se ramai biasanya. Hujan mulai berhenti seiring dengan aroma sendu kopi malam panas, asapnya seketika mengepul memenuhi ruang yang di bentengi dinding bambu. Anyamannya telah di selubungi jalinan debu yang berasal dari tua nya kedai legendaris itu, mengental di sela-sela nya. Sorot lampu sedikit menerangi ruangan, seketika terlihat guratan pola abstrak berwarna coklat kusam di ujung lipatan atap.

Selasa, 24 Maret 2015

Dia teknikal death metal sedangkan aku hanya blues yang penuh delay.

Belum lama ini aku menemui kerabat dekat waktu kuliah dulu. Pertemuan yang lebih banyak terhabiskan oleh obrolan mengenai prinsip hidup. Lingkungan begitu mempengaruhi pola pikir seseorang ternyata. Kami sepakat bahwa saat ini mahasiswa masih banyak yang berpikir "satu tambah satu sama dengan dua, harus dua" artinya lurus-lurus aja. Daya kritis dan kreatifitasnya teralihkan pada anggapan tentang nilai yang salah. Teknokrat. Terkadang memang harus bilang teknokrat, bukan sok akademis atau menginginkan pengakuan kelas sosial, dan hal hal remeh temeh klise lain. Namun jika dikatakan "berorientasi pada hasil" saja juga kurang menurutku, jadi ada beberapa istilah yang memang harus diistilahkan dengan bahasa asing atau serapan.

Jumat, 06 Maret 2015

Alien want say something

Menikam diriku sendiri dengan sebuah tambang serabut kelapa, kalau perlu itu ku lakukan untuk membuktikan, bahwa aku bukanlah Alien. Aku berasal dari moyang yang sama dengan mu, dengan sanak saudara mu semua. Gigiku utuh seperti manusia, karena tidak skoliosis dan memiliki kelainan tulang belakang, aku berjalan tegak seperti manusia normal pada umumnya, hanya saja aku memang sedikit bungkuk, karena aku memang pemalas dan suka tidur. Dalam mengitari bumi ini, aku tak menggunakan -yang disebut manusia pada dimensimu (agar kau tak marah jika ku samakan aku patut ada dalam satu dimensi denganmu) sebagai- Unidentify Flying Object, aku mengendarai motor matic -baru- untuk pergi ke mana suka. Ketika lelah aku juga meneteskan peluh yang rasa nya asam seperti punya mu, seperti punya manusia umum pada dimensimu, lantas kenapa kau masih saja memfitnah aku sebagai Alien?

Aku menggunakan smart phone, aku pernah juga jatuh cinta -walaupun jarang- , aku pernah juga sesekali marah dan bertingkah konyol selayaknya manusia pada dimensi dimana kamu memaki-maki setiap aral lintangan yang tak kuat kau pikul sendiri. Aku memiliki motivasi hidup, sehingga aku memutuskan untuk bekerja, sebagai pustakawan, aku hidup di dunia mu, tapi aku takut kamu marah jika tau kalau aku bilang aku hidup di duniamu. Terkadang aku absurd juga seperti pekerti wajar manusia pada dimensimu, aku mengalami sebuah realitas yang terkadang kulihat terbalik sehingga aku punya yang namanya selera humor, aku punya -hampir- segala adab normatif miliki manusia normal seperti dalam dimensimu.

Bukankah manusia baik sepertimu harusnya adil dalam berpikir? Kau saleh secara sosial dan teologis, aku tau. Tapi masih saja kau anggap aku Alien. 

Minggu, 22 Februari 2015

Kondisi Anomali #2

Aku baru pulang saat hujan tak juga kunjung reda. Jadi aku memutuskan untuk menerjang. Air berderai, lebat dan serta tajam-tajam menggoreskan deretan garis pemisah jalan yang berjenjang dan putus-putus. Aku jadi seperti berjalan di hutan. Sebuah lagu yang terus kunyanyikan berulang kali, aku lupa liriknya, dan tak banyak peduli tentangnya. Cuma mau menyampaikan saja.

Aku jadi teringat kala itu. Ku putar kembali memori yang telah lama kusut dan lusuh jari-jarinya. Membilak-balik lipatan demi lipatan yang telah banyak tertimbun barang-barang perkakas lama serta puing remahan atapku yang selalu rapuh diinjak-injak kediktatoran tikus serta pengerat lawanannya. 

Ku lihat, kamu masih arogan seperti biasanya. Menerocos dan sering lebay seperti biasanya. Sampai kapan kamu mengutukku terus? Pasti kau jawab, aku tak pernah mengutukmu, kau selalu begitu, ya, selalu begitu. Aku pun begitu, tapi pada kesempatan ini kamu yang begitu, kalau aku begitu di kesempatan lain, sudah lain permasalahannya!

Jumat, 20 Februari 2015

Anti titik Jenuh: Edisi 3 yang super melelahkan


Entah pernah atau tidak, aku menulis sesuatu tentang majalah ya? memang sih, link nya aku taruh dalam laman blog ini, namun aku hanya ingin bilang kalau aku mengelola sebuah majalah bersama teman-temanku.

Dari edisi ke edisi coba aku arungi dengan limpahan tangis sepanjang jalannya *halah. Tapi benar, mengelola sebuah majalah indie adalah sebuah tantangan besar buatku. Mengatur diri sendiri, kapan harus rapat, rapat dimana dan pakai uang apa -_-, harus terbit kapan, dan dengan lapang dada menentukan deadline. Terkadang ada masa-masa deadlock sepi ide, dan bosan, ya karena memang telah selayaknya dibuat se santai mungkin. Karena, menurutku santai adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap birokrasi mainstream yang serba formal dan sama sekali tak santai.

Rabu, 18 Februari 2015

Kondisi Anomali.



Bedebam. Proolll!. Krompyang!.

Bunyi nyaring hantaman dua batu cadas yang sama-sama keras nya. Klise sekali, sebab bagaimana pun narasinya, tetap itu-itu saja. Yang penting aku hanya mencoba menjalankan fungsi diksi dengan baik. Aku suka mengumpat, tapi susah sepertinya mengalahkan Asu-Buntung nya Ahmad Tohari, mau progresif juga otak tak sampai. Antara mau menatapnya secara naïf ataupun nanar penuh dendam, tetaplah sudah sama jadinya. 

Konsensus telah dibunyikan bagaikan pledoi, jatuh tak bisa disangkal. Sesal yang memerah membekukan darah yang mengalir. Sesal yang merah memar bulat dan ungu di permukaannya. Sesal yang menghasilkan luka basah tak kunjung kering. Aku tak tau lagi cara menanggapi kejadian yang begitu tiba-tiba dan mendesakku tanpa perlu pembelaan dariku.